Toko Buku Islam Online Murah Berhadiah | Toko Muslim  | Jual online| Agama Islam| Toko Buku | Buku Online | Buku Islam -  Islamic store Online |  Murah | Grosir dan Eceran
Bukuilmu.com Menjual Buku-Buku Islam Berkualitas, murah, serba diskon, baik grosir maupun retail. Selamat Berbelanja, semoga Berkah. Amin
Login
Shopping Cart
shopping cart
Categories
Newsletter
Testimonial
Budiman
Assalamualaikum. Alhamdulillah buku pesanan Atlas Walisongo sudah saya terima. Terima kasih atas pelayanan yg responsif & cepat. Semoga bukuilmu.com semakin maju. Salam

Suryanugraha (Ciputat)
Bukunya sudah saya terima. Sukran

Erdinawati
Assalamu alaikum ww. Paket Sovenir almatsuratnya sdh nyampe, terimakasih

Tanti
Alhamdulilah.. buku pesanan cepat banget sampenya kirim tgl 18 nov, tgl 19 sdh sampe. Harga buku jg relatif lbh murah dr lainnya. Smg bukunya byk memberi manfaat. Jazakumullah.

Pandji Aryorifa

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَ... detail


BAYU
[URL]
bkunya benar2 komplit harganya terjangkau selainitu adminya juga ramah, bnr2 recomended seller

REDZUAN RAFIE
Asslam, Saya nak lihat 5-7 mukasurat isi dalam buku Ensiklopedia Hadiths

REDZUAN RAFIE
Assalam, Saya nak lihat 5-7 mukasurat isi di dalam buku tersebut

Apung
Terimakasih buku sudah sampai

Asmara putra sejati
Mau beli buku fiqih empat madzhab penerbit hasyimi gmn caranya ya?minta no telfnya dong..trimakasih

Sunarno (AHM Sunter)
Alhamdulillah paket sudah sampai Ust, jazakallah Khairan

Ares (Payakumbuh)
Alhamdulillah bukunya sudah ana terima dengan baik... Sukron jazakumullah khair..

Ivan dika sapri
Assalamu'alaikum wr.wb Pak buku kumpulan hadist shahih bukhari muslimbya sudah diterima Trima kasih, jazakumullah...sisa kekurangannya dikirim besok

Ahsan
[URL]
Kalau ke surabaya berapa ongkirnya ? Bukunya bagus bagus ^_^

Soufyan (Wisma IKPT - Tebet)
Assalamu alaikum. Pak. Kiriman sudah saya terima. Terimakasih juga atas bonusnya. Soufyan

Sigit S (Sampoerna Strategic Square-Semanggi)
Assalamu 'Alaikum warahmatullah wabarokatuh, Buku pesanannya sudah sampai pak. Terima kasih. Salam, Sigit

» lihat testimonial
» isi testimonial
USD Calc
US$ x Rp. 14,000 =
Rp.  

#135 of 171 | prev product Prev - Next next product
printer email

product arrow Terjemah Minhajul Abidin. Mutiara Ilmu

Price Rp 50.000
Rp 40.000
Beli

Ibadah adalah karunia, pahala, kenikmatan abadi, dan sarana menuju surga yang kekal. Kelak terasa indah, seindah hati kaum abidin (ahli ibadah) yang menjalaninya dengan ikhlas dan ihsan. Inilah jalan para nabi, para auliya, shalihin dan mukhlisin.

 

Namun jalan menuju ke surga-Nya itu bukanlah jalan yang mudah dilalui oleh para hamba yang mudah tergoda indahnya dunia. Berbagai rintangan menghadang, siap menarik seorang hamba ke jurang maksiat, hingga semakin jauh dari tujuan ibadahnya. Rasulullah saw bersabda “ketahuilah bawah jalan menuju surga itu penuh rintangan dan lika-liku, sedangkan jalan ke neraka itu mudah dan rata.”

 

Melalui kitab ini, Imam Al-Ghozali membagi perjalanan seorang ahli ibadah itu dalam tujuh tahapan. Ini adalah risalah bimbingan yang menjadi wasiat terakhirnya bagi umat, karena tak lama sesudah menyusun buku ini, sang imam ini meninggalkan dunia, menghadap Rabbul Alamin yang selalu beliau rindukan.

 

Imam Al-Ghozali memaparkan tips-tips penting agar selalu waspada terhadap setiap rintangan yang ada. Sehingga dapat keluar dari perangkap tersebut.

DAFTAR ISI:

 

Pendahuluan

 

BAB I : Tahapan Pertama: ILMU DAN MAKRIFAT

         

            - Menuntut Ilmu adalah Wajib

 

BAB II : Tahapan Kedua: T O B A T

            

            - Makna Tobat Nashuha dan Batasannya

            - Tiga Prasyarat Tobat

            - Menjauhkan Diri dari Dosa

            - Tobat dan Mengulang Dosa

 

BAB  III : Tahapan Ketiga: GODAAN-GODAAN

          

            A. Ragam Godaan terhadap Manusia

               

                a. Godaan Pertama: Dunia

                b. Godaan Kedua: Manusia

                c. Godaan Ketiga:Setan

                d. Godaan Keempat: Hawa Nafsu

 

            B. Takwa: Senjata Melawan Godaan Setan dan Nafsu

                a. Manfaat takwa

                b. Makna takwa

                c. Anggota tubuh yang harus dilindungi dari dosa

 

            C. Cara Mengatasi Berbagai Godaan

 

     BAB  IV : Tahapan Keempat: KENDALA-KENDALA DI JALAN IBADAH

           

             A. Rezeki dan Tuntutan Nafsu

             B. Ragu dan Khawatir

             C. Qadha' Allah

             D. Musibah dan Kesulitan Hidup

 

    BAB  V :  Tahapan Kelima: DORONGAN DAN MOTIVASI

 

             A. Rasa Takut (Khauf) dan Harapan (Raja')

             B. Rasa Takut dan Harapan: Jalan Tengah yang

                 Menyelamatkan

            

     BAB VI : Tahapan Keenam: MENGHINDARI FAKTOR-FAKTOR

                   PERUSAK IBADAH

 

             A. Riya' dan 'Ujub: Faktor Utama Perusak Ibadah

             B. Mengobati Riya' dan 'Ujub

             C. Meremehkan Khusyu' dan Istiqamah

 

     BAB  VII : Tahapan Ketujuh : PUJIAN DAN SYUKUR

           

             A. Makna Pujian dan Syukur

             B. Nilai Sebuah Pemberian

             C. Cermin Kebutuhan Hamba yang Lemah

             D. Empat Puluh Kemuliaan di Dunia dan Akhirat

             E. Penutup

PENDAHULUAN Syaikh Al-Faqih As-Shalih Az-Zahid Abdul Malik bin Abdullah –semoga Allah mengampuninya- berkata, guruku yang mulia Al-Imam Az-Zahid As-Sa’id Al-Muwaffiq Hujjatul Islam Zainuddin, sebaik-baik umat, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali At-Thusiy –semoga Allah membersihkan ruhnya dan mengangkat derajatnya di surga- telah mendikte/membacakan kitab ringkasan ini padaku. Kitab ini merupakan kitab terakhir yang dikarangnya. Tidak ada yang minta untuk dibacakan kitab tersebut dari beliau kecuali para sahabatnya yang khusus. Segala Puji bagi Allah Yang Maha Merajai, Maha Bijaksana, Maha Pemurah, Maha Mulia, Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang menciptakan manusia dalam bentuk yang paling bagus, yang menciptakan langit dan bumi dengan kuasa-Nya, yang mengatur semua perkara di dunia dan akhirat dengan kebijaksanaan-Nya. Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Maka jalan (untuk ta’at dan berkhidmah) pada-Nya tterlihat jelas bagi orang-orang yang menginginkannya. Dalil tentang ke-Esa-an Allah begitu tampak bagi orang-orang yang melihat dengan hati mereka. Tetapi Allah mampu menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan (mampu) memberikan petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui terhadap orang-orang yang (pantas) mendapatkan petunjuk. Sholawat semoga senantiasa terhaturkan kepada Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, serta kepada keluarganya, yang merupakan orang-orang baik, bagus nan bersih. Dan semoga Allah memberikan salam dan mengagungkan mereka sampai hari kiamat. Ketahuilah wahai saudara-saudaraku –semoga Allah membahagiakan kalian dan aku dengan ridho-Nya– sesungguhnya ibadah adalah buahnya ilmu, faidah/kegunaannya umur, penghasil hamba-hamba yang kuat, hartanya para wali, jalannya orang-orang yang taqwa, bagiannya orang-orang langka/asing, tujuan bagi orang-orang yang memiliki semangat, tanda-tanda bagi orang-orang yang mulia, profesinya para tokoh, dan pilihannya orang-orang yang mempunyai mata hati. Ibadah juga merupakan jalan kebahagiaan menuju surga. Allah berfirman : وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ (الأنبياء : 92) “Dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya’ : 92) Dan Allah berfirman : إِنَّ هذَا كَانَ لَكُمْ جَزَاءً وَّكَانَ سَعْيُكُمْ مَّشْكُوْرًا (الإنسان : 22) “Sesungguhnya ini (kenikmatan surga) adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS. Al-Insan : 22) Kemudian sesungguhnya kami merenungkan tentang ibadah dan memikirkan jalannya dari awal hingga tujuan akhir yang mana merupakan cita-cita bagi orang yang menitinya. Maka (kami mendapati bahwa) ibadah merupakan jalan yang sulit nan rumit, memiliki tahapan yang banyak, sangat berat, jauh perjalanannya, besar cobaannya, banyak rintangan dan halangan, terkepung dengan peperangan dan pertikaian, banyak musuh dan pembegal, sedikit kawan dan pengikut. Keadaan ini adalah keniscayaan yang harus ada, karena ibadah merupakan jalan (menuju) surga. Maka hal ini membenarkan apa yang telah diucapkan oleh Rasulullah SAW : أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِاْلمَكَارِهِ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ “Ingatlah, sesungguhnya surga itu dikepung dengan hal-hal yang dibenci. Sedangkan neraka dikepung dengan berbagai kesenangan hawa nafsu”. Dan Rasulullah (juga) bersabda : أَلاَ وَإِنَّ الْجَنَّةَ حَزْنٌ بِرَبْوَةٍ أَلاَ وَإِنَّ النَّارَ سَهْلٌ بِسَهْوَةٍ “Ingatlah, sesungguhnya (jalan menuju) surga itu berat (bagaikan tanah yang terjal) di sebuah bukit. Dan sesungguhnya neraka itu mudah (bagaikan tanah rata) di dataran rendah”. Di sisi lain, seorang hamba adalah makhluk yang lemah, zaman (semakin) sulit, urusan agama semakin berkurang, kesempatan/waktu luang sedikit, kesibukan banyak, umur pendek, dalam perbuatan terdapat kecerobohan, malaikat pengintai selalu melihat, kematian begitu dekat, perjalanan (menuju akhirat) jauh. Ketaatan adalah bekal yang harus ada, jika terlewatkan tidak bisa kembali lagi. Maka barang siapa yang memperoleh ketaatan, sungguh ia beruntung dan bahagia selama-lamanya. Dan barang siapa yang kehilangan/terlewatkan ketaatan, maka ia merugi bersama golongan orang-orang yang rugi, ia rusak bersama orang-orang yang rusak. Sehingga demi Allah, perkara ini merupakan perkara yang sulit dan kekhawatiran yang besar. Oleh karena itu, jarang dan sedikit orang yang menghendaki jalan (ibadah) ini. Diantara sekian orang yang menghendakinya, sedikit orang yang menitinya/menempuhnya. Dan diantara sekian orang yang menitinya, jarang orang yang sampai pada tujuan dan memperoleh apa yang ia cari. Mereka (yang sampai pada tujuan) ialah orang-orang mulia yang dipilih oleh Allah untuk mengenal dan mencintai-Nya, yang diberi petunjuk pada kebenaran dengan taufiq/pertolongan dan penjagaan Allah, kemudian Allah mengantarkan mereka pada ridlo dan surga-Nya. Maka kita memohon kepada Allah -yang agung dzikir-Nya- agar Allah menjadikan kita dalam golongan mereka, orang-orang yang berhasil dengan rahmat-Nya. Memang benar, dan ketika kami dapati jalan (ibadah) ini dengan sifatnya, kami berpikir dan terus berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai tata cara menaklukkan jalan tersebut dan perkara yang dibutuhkan oleh seorang hamba; meliputi biaya, persiapan, alat, dan siasat dari ilmu dan perbuatan. Barangkali ia bisa menaklukkannya dalam keadaan selamat dengan bagusnya pertolongan Allah, dan tidak berhenti pada tahapan-tahapan yang merusak sehingga ia rusak bersama orang-orang yang rusak, semoga Allah melindungi. Maka kami mengarang kitab-kitab yang menjelaskan tentang cara untuk menaklukkan dan menempuh jalan ini, seperti kitab Ihya’ Ulumiddin, Al-Qurbah Ilallah, dan lain sebagainya yang memuat ilmu-ilmu yang rumit dan sulit untuk dipaham oleh orang-orang umum sehingga mereka mencela dan mereka malah tenggelam dalam obrolan yang tidak mereka ketahui. Tidak ada kalam/pembicaraan yang paling fasih/bagus dari kalam Allah Tuhan semesta alam. Sedangkan mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu (hanya) cerita-cerita orang-orang terdahulu”. Tidakkah kau mendengar perkataan Zainal Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib –semoga Allah meridloi mereka- : “Sesungguhnya aku menyembunyikan mutiara-mutiara dari ilmuku, agar orang-orang bodoh tidak melihatnya karena bisa menimbulkan fitnah Hal itu dahulu pernah dilakukan ayah Hasan dan Husain, Ali berwasiat kepada Hasan dan Husain Begitu banyak mutiara ilmu, seandainya aku memperlihatkannya, pasti akan dikatakan bahwa aku penyembah berhala Bahkan pembesar kaum muslimin menghalalkan darahku, mereka menganggap, sejelek-jelek perbuatan mereka (membunuhku) adalah sebuah tindakan yang baik” Keadaan ini menuntut orang-orang beragama yang merupakan makhluk Allah yang paling mulia untuk melihat pada seluruh makhluk-Nya dengan penglihatan kasih sayang dan meninggalkan perdebatan. Lalu aku berdo’a sepenuh hati pada Dzat yang segala makhluk dan urusan ada di genggaman-Nya agar menolongku dalam mengarang kitab yang telah disepakati dan bisa memberikan manfaat. Maka doaku dikabulkan oleh Dzat yang mengabulkan do’a orang yang terdesak apabila berdo’a. Dan dengan karunia-Nya, Allah menunjukkan kepadaku rahasia-rahasia karangan itu, serta Allah memberikanku ilham berupa susunan yang mengagumkan dalam kitab tersebut yang belum pernah aku sebutkan dalam karangan-karangan yang terdahulu tentang rahasia-rahasia pengamalan agama. Kitab tersebut adalah kitab yang aku sifati sendiri, lalu aku berkata : Sesungguhnya hal yang pertama kali mengingatkan seorang hamba untuk beribadah dan menyepi guna menempuh jalan ibadah adalah getaran dari langit yang berasal dari Allah dan pertolongan khusus dari-Nya. Kondisi inilah yang dimaksud dengan firman Allah : أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَه لِلْإِسْلاَمِ فَهُوَ عَلَى نُوْرٍ مِّنْ رَّبِّهِ (الزمر : 22) “Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang yang membatu hatinya)?”. Dan ayat tersebut telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW, lalu beliau bersabda : إِنَّ النُّوْرَ إِذَا دَخَلَ الْقَلْبَ انْفَسَحَ وَانْشَرَحَ “Sesungguhnya apabila cahaya telah masuk ke dalam hati, maka hati menjadi luas dan lapang”. Kemudian dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah hal tersebut memiliki tanda-tanda yang bisa diketahui?”. Nabi menjawab : التَّجَافِى عَنْ دَارِ الْغُرُوْرِ، وَاْلإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُوْدِ، وَالْإِسْتِعْدَادُ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُوْلِ الْمَوْتِ “Menjauh dari negeri tipuan (dunia), kembali pada negeri keabadian (akhirat), dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian sebelum ajal menjemput”. Dan apabila terbesit dalam hati seorang hamba sebelum dia beribadah, “Sesungguhnya aku menemukan diriku ini makhluk yang diberikan kenikmatan dengan bermacam-macam kenikmatan, seperti hidup, kemampuan, akal, berbicara, kenikmatan-kenikmatan lain, dan kelezatan-kelezatan, serta hal-hal yang bisa menjauhkanku dari berbagai bahaya dan bencana. Dan sesungguhnya di balik semua kenikmatan ini ada Dzat yang memberikan kenikmatan, yang menuntutku untuk mensyukuri dan menaati-Nya. Lalu apabila aku lupa untuk bersyukur dan taat, maka Dia menghilangkan kenikmatan itu dariku dan memberikanku adzab dan siksa-Nya. Dia telah mengutus Rasul untukku, yang diberi kekuatan berupa mu’jizat yang di luar kebiasaan dan keluar dari kemampuan manusia. Dan Rasul itu memberitahuku bahwa aku mempunyai Tuhan yang agung dzikirnya, yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Hidup, Maha Berkehendak, Maha Berfirman, yang memerintah dan melarang, yang mampu menyiksa jika aku mendurhakai-Nya dan memberikanku pahala jika aku menaatinya, yang mengetahui rahasia-rahasiaku dan apa yang bergejolak dalam fikiranku, yang telah berjanji dan mengancam, yang memerintahkan dengan pelaksanaan undang-undang syari’at”, maka dalam hatinya berkata bahwa hal itu mungkin terjadi, karena secara langsung dalam (pemikiran) akal tidak ada kemustahilan akan terjadinya hal tersebut. Kemudian ia merasa takut atas dirinya. Maka inilah getaran menakutkan yang mengingatkan hamba, yang menetapkan hujjah/dalil baginya, yang menolak segala alasan, dan menggerakkannya untuk berpikir dan mencari dalil. Lalu dia bergerak, gelisah, dan memikirkan jalan (menuju) keselamatan dan keamanan dari apa yang ada terjadi di hatinya atau yang ia di dengar dengan telinganya, maka ia tidak menemukan jalan keluar selain merenungkan dengan hatinya tentang dalil/bukti dan menjadikan makhluk Allah sebagai bukti adanya Sang Pencipta, agar ia memperoleh ilmul yaqin (ilmu keyakinan) dengan hal yang ghaib, dan (agar) ia tahu bahwa sesungguhnya ia punya Tuhan yang menaklifnya/membebaninya, memerintahnya, dan melarangnya. Semua ini adalah tahapan pertama yang dihadapinya dalam menempuh jalan ibadah, yaitu tahapan ilmu dan ma’rifat (‘aqobatul ‘ilmi wal ma’rifat) agar ia mengetahui perkara (tahapan) tersebut sehingga ia dapat menaklukkannya dengan pemikiran yang bagus dan perenungan yang sempurna tentang dalil/bukti, serta dengan cara bertanya pada ulama akhirat, (yang menjadi) petunjuk jalan menuju Allah, lentera umat, pemimpin imam-imam, dan (dengan cara) mengambil manfaat dari mereka, serta meminta petunjuk do’a yang baik dari mereka agar mendapatkan pertolongan dan bantuan untuk menaklukkan tahapan itu dengan (perantara) taufiq Allah. Maka ia memperoleh ilmul yaqin terhadap hal ghaib, yaitu bahwa ia memiliki Tuhan yang Esa yang tiada sekutu baginya. Dia-lah Tuhan yang menciptakannya dan memberikan nikmat kepadanya dengan seluruh nikmat ini. Dan sesungguhnya Allah memaksanya untuk bersyukur, memerintahkan ia agar taat kepada-Nya secara dhohir dan bathin. Allah memperingatkannya (agar waspada) terhadap kekufuran dan berbagai kemaksiatan. Allah memberikan pahala yang abadi (surga) baginya jika ia menaati-Nya dan memberikan siksaan yang abadi (neraka) jika ia mendurhakai-Nya dan berpaling dari-Nya. Tatkala ia telah memperoleh ilmul yaqin, ma’rifat dan keyakinan terhadap perkara ghaib tersebut mendorongnya untuk bersiap-siap melakukan ketaatan dan fokus beribadah kepada Dzat yang memberikan kenikmatan, yang ia cari lalu ia temukan, yang ia kenal setelah ia tak mengenalnya. Namun ia tidak tahu bagaimana ia harus beribadah dan apa yang harus ia lakukan untuk taat kepada-Nya secara dhohir dan bathin. Dan setelah ketakutan terhadap ma’rifat (mengenal Allah) ini, ia berusaha dan bersungguh-sungguh. Sehingga ia mempelajari apa yang menjadi keharusan baginya, meliputi kefardluan-kefardluan syari’at secara dhohir dan bathin. Setelah ia menyempurnakan (tahapan) ilmu dan ma’rifat dengan kewajiban-kewajiban syari’at, ia tergugah untuk beribadah dan menyibukkan diri dengan ibadah. Kemudian ia berfikir, maka ia dapati dirinya berlumuran dosa. Keadaan ini dialami oleh banyak manusia. Lalu ia berkata, “Bagaimana aku fokus beribadah, sedangkan aku adalah orang yang sering maksiat dan berlumuran kemaksiatan. Maka wajib bagiku untuk bertaubat dulu pada-Nya agar Dia mengampuni dosa-dosaku, menyelamatkanku dari belenggu kemaksiatan, dan mensucikanku dari kotoran-kotoran kemaksiatan. Sehingga aku pantas untuk taat/ibadah dan mendekat kepada Allah”. Lalu ia dihadapkan dengan tahapan taubat (‘aqobatut taubah). Maka sudah menjadi keharusan baginya untuk melewati tahapan ini supaya ia sampai pada tujuan dari taubat. Setelah itu, ia harus mengambil keputusan untuk bertaubat beserta melaksanakan hak-hak dan syarat dari taubat itu sendiri hingga ia dapat melewati tahapan ini. Ketika ia telah berhasil melakukan taubat dengan benar dan ia telah selesai dari tahapan ini, ia bertekad memusatkan diri untuk beribadah. Kemudian ia berfikir, karena ternyata di sekelilingnya terdapat rintangan-rintangan yang dapat memalingkannya, yang mana setiap rintangan itu dapat memalingkannya dari tujuan ibadah dengan berbagai macam tipudaya rintangan itu. Setelah ia cermati, ternyata rintangan-rintangan itu ada 4 macam : 1. Dunia 2. Makhluk 3. Setan 4. Nafsu Kemudian ini pun menjadi keharusan baginya untuk menolak dan menangkis keempat rintangan tersebut. Jika tidak, maka ia tidak bisa sampai pada tujuan ibadah. Dari sini, sampailah ia pada tahapan penghalang (‘aqobatul ‘awaaiq). Untuk dapat melewatinya ia membutuhkan 4 perkara juga, yaitu : 1. Membebaskan diri dari dunia 2. Menyepi dari makhluk 3. Memerangi setan 4. Mengendalikan hawa nafsu Mengendalikan hawa nafsu merupakan perjuangan yang paling berat karena manusia tidak mungkin melepaskan diri dari nafsu tersebut, juga tidak mudah untuk mengendalikan nafsu dengan sekali usaha dan nafsu tidak bisa ditumpas layaknya setan. Karena nafsu juga merupakan kendaraan dan alat bagi manusia, namun ia juga tidak boleh menuruti keinginan hawa nafsu untuk meraih tujuan ibadah. Karena wataknya yag selalu melawan kebaikan, seperti bermain-main dan selalu ingin dituruti kemauannya. Dengan demikian, maka seseorang perlu menyetirnya dengan kendali taqwa agar nafsu tetap ada, tapi tidak mampu membuat dan menuntun kepada suatu hal. Apabila begini, nafsu tidak akan mampu bergejolak lagi. Oleh sebab itu, ia dapat menggunakan nafsu untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan meraih petunjuk-petunjuk. Bahkan dapat mencegah dari kebinasaan dan kekacauan. Pada saat ia ingin melewati tahapan ini, haruslah melakukan hal-hal di atas dan meminta pertolongan kepada Allah yang agung dalam penyebutan namanya. Ketika seseorang telah melaluinya dan kembali pada tujuan ibadah, ternyata muncul rintangan-rintangan lagi yang mengganggunya agar hilang kefokusannya dari tujuan ibadah dan mencegahnya untuk total dalam melaksanakan tujuan ibadah sebagaimana mestinya. Setelah dicermati, ternyata rintangan itu ada 4 : 1. Rizqi, nafsu selalu menuntut rizqi. Ia (nafsu) berkata, “Rizqi dan kebutuhan pokok merupakan kebutuhan yang harus aku penuhi, sementara kamu telah melepaskan diri dari dunia dan mengasingkan diri dari makhluk. Maka, dari manakah datangnya kebutuhan pokok dan rizqiku?” 2. Gerak hati, terhadap segala sesuatu yang ditakutinya, harapan, keinginan dan kebenciannya. Sementara ia tidak tahu akan baik dan rusaknya hal tersebut, karena akibat dari perkara itu tidaklah jelas. Kemudian hatinya menjadi penuh dengan persoalan karena bisa jadi ia akan terjatuh dalam kehancuran dan kebinasaan. 3. Berbagai macam kesulitan dan musibah menderanya dari berbagai arah. Terlebih ia telah mengambil sikap berbeda dengan makhluk, memerangi setan dan melawan hawa nafsu. Betapa banyak deraan melukainya, begitu banyak kesulitan yang dihadapinya, begitu banyak kesedihan yang mengganggunya dan begitu banyak cobaan yang dialaminya. 4. Ketetapan-ketetapan Allah SWT, baik yang manis ataupun pahit silih berganti mengenai dirinya dari waktu ke waktu. Padahal nafsu selalu mendorong pada kebencian dan melancarkan fitnah. Dari sini, ia menghadapi tahapan empat godaan (‘aqobatul ‘awaridl al-arba’ah). Untuk menaklukkan tahapan ini, seseorang memerlukan 4 perkara : 1. Tawakkal kepada Allah SWT dalam persoalan rizqi. 2. Pasrah kepada Allah Jalla Wa ‘Azza bila muncul gerak hati. 3. Bersabar saat menghadapi berbagai macam kesulitan. 4. Ridlo dengan ketetapan Allah. Maka ia melewati tahapan ini dengan izin dan kekuatan (pertolongan) Allah. Setelah selesai dalam tahapan ini dan kembali pada tujuan ibadah, ternyata ia dapati keinginannya mengendor, lemah, malas, tidak bergairah dan tidak terbangun untuk melakukan kebaikan sebagaimana mestinya. Nafsu selalu mendorongnya untuk lalai, berhenti melakukan aktifitas, bersantai-santai, bahkan justru mendorongnya pada keburukan, sikap berlebih-lebihan dan bertindak bodoh. Oleh sebab itu, ia membutuhkan motivator yang mendorongnya melakukan kebaikan, ketaatan dan sesuatu yang menjadikannya bersemangat yang mampu mencegahnya dari melakukan kejelekan dan kemaksiatan, serta sesuatu yang dapat melemahkan keduanya. Motivator itu adalah : 1. Ar-Roja’ (mengharap kenikmatan dari Allah) 2. Al-Khouf (takut terhadap adzab Allah) Roja’ adalah harapan terhadap agungnya pahala dari Allah SWT dan keindahan janji-janjinya yang berupa berbagai macam kemuliaan. Mengingat akan hal tersebut merupakan motivator yang mendorongnya untuk taat, menggerakkannya, serta membangkitkan semangatnya. Sedangkan khauf adalah takut terhadap pedihnya siksaan Allah serta takut terhadap ancamannya, yang berupa berbagai macam siksaan dan kehinaan yang amat memilukan. Hal ini merupakan pemicu semangat untuk menjauhkan diri dari kemaksiatan dan hal-hal yang dilarang. Inilah yang dinamakan dengan tahapan motivator (‘aqobatul bawaits). Inilah tahapan berikutnya yang dihadapi oleh seseorang yang tengah menempuh jalan ibadah. Ia pun harus bisa melewatinya dengan dua perkara tersebut (roja’&khouf) dan dengan memohon taufiq serta pertolongan dari Allah SWT. Ketika ia dapat melewati tahapan ini, lalu kembali fokus terhadap pelaksanaan ibadah, ia tidak melihat sesuatu yang memalingkannya dan yang dapat mengganggunya. Akan tetapi, justru telah mendapatkan motivator pendorong semangat dalam beribadah. Ia menjadi dapat menunaikan ibadah dengan penuh kerinduan dan kecintaan secara terus-menerus. Namun ternyata muncul dalam ibadah agung ini dua buah bencana besar, yaitu : 1. Riya’ (sifat pamer). 2. ‘Ujub (sifat membanggakan diri). Terkadang muncul riya’ terhadap manusia dalam ketaatannya, sehingga rusaklah ketaatan itu. Sementara di lain waktu ketika ia dapat menepis unsur riya’ dan dapat mengecam hawa nafsunya, muncullah perasaan ‘ujub dalam hatinya yang mampu membuat rusak dan menghancurkan ibadahnya. Inilah tahapan berikutnya, yaitu tahapan pencemar ibadah (‘aqobah al-qowadih). Seseorang mesti melaluinya dengan jalan keikhlasan, mengenang anugrah dan lainnya agar kebaikan yang ia lakukan tidak tercemar. Untuk melewati tahapan ini pula, dengan izin Allah SWT, dengan cara penuh kesungguhan, kewaspadaan, dan kesadaran berkat kebaikan penjagaan Allah Yang Perkasa, serta bertaqwa kepada-Nya. Ketika ia dapat menyelesaikan tahapan ini, maka ia dapat beribadah dengan semestinya dan terbebas dari berbagai bahaya. Akan tetapi, ketika ia melakukan perenungan, ia menjadi tahu bahwa ternyata ia tenggelam dalam lautan anugrah Allah dan kekuasaan-Nya seperti banyaknya nikmat Allah padanya yang berupa selalu mendapatkan taufiq, penjagaan, berbagai macam ketaqwaan, pemeliharaan dan kemuliaan. Sehingga membuatnya takut bila ia lalai dalam bersyukur yang menyebabkan ia tersungkur dalam kekufuran dan membuatnya terjatuh dari derajat yang tinggi itu, yaitu derajat pengabdian orang-orang yang ikhlas kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia pun takut akan hilangnya nikmat-nikmat yang mulia berupa berbagai macam kelembutan-kelembutan Allah SWT dan kebaikan pandangan Allah kepadanya. Dari sini, ia menghadapi tahapan puji dan syukur (‘aqobah al-hamdi wa al-syukri). Maka ia harus melalui tahapan ini melalui banyak-banyak memuji dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Ketika ia dapat menyelesaikan dan melalui tahapan ini, tiba-tiba ia telah berada pada puncak tujuan yang dicita-citakannya. Hanya tinggal sedikit lagi ia sampai pada kemudahan menggapai anugrah besar, padang kerinduan dan lautan kecintaan. Kemudian sampailah ia pada taman keridhaan dan kebun ketentraman, derajat kedekatan, majlis munajat, serta memperoleh mahkota dan berbagai macam kemuliaan. Ia merasa nyaman dalam kondisi ini. Ia dapat melalui hari-hari dan sisa usianya dengan bergaul dengan seseorang di dunia, tetapi hatinya di akhirat. Sehingga ia merasa jemu terhadap semua makhluk dan memandang kotor dunia. Ia ingin segera mati meyempurnakan kerinduan di suatu tempat yang tinggi di sisi Allah (mala' al-a’laa). Tiba-tiba tanpa ia sadari, ruhnya telah bersama utusan-utusan Allah yang memberikan kesenangan, kegembiraan dan keridhaan dari sisi-Nya dengan penuh keridhaan tanpa sedikit pun mendapat kemurkaan-Nya. Lalu para utusan itu memindahkannya dalam kondisi jiwa yang bagus, penuh kegembiraan dan ketentraman dari dunia fana yang penuh dengan fitnah menuju kehadirat Ilahi dan menetap di taman surga. Ia pun melihat dirinya yang lemah memperoleh anugrah kenikmatan yang kekal, singgasana kerajaan yang besar dan mengagumkan. Disana ia mendapatkan dari Tuhannya yang Maha Penyayang, yang Maha Memberi dan Maha Mulia berupa kasih sayang, kelembutan, dianugrahi kenikmatan-kenikmatan dan kemuliaan yang tidak bisa digambarkan oleh siapa pun. Setiap hari itu semua terus bertambah untuk selama-lamanya. Betapa besar keberuntungannya, alangkah tinggi kerajaan yang diraih seorang hamba yang beruntung, seorang yang berbahagia, keadaan yang terpuji dan tempat kembali yang sempurna. Kita memohon kepada Allah yang Maha Baik serta Maha Penyayang agar berkenan memberikan anugrah dan nikmat yang besar kepada kita. Dan itu semua bagi Allah sangatlah mudah. Dan semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak mendapatkan bagian, serta semoga kita tidak termasuk orang yang mendengar, mengetahui, dan berharap dengan tanpa mendapatkan manfaat. Dan semoga Allah tidak menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai hujjah yang mengalahkan kita kelak di hari kiamat. Semoga Allah memberikan pertolongan untuk mengamalkan hal tersebut sebagaimana yang disukai dan diridloi-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang dan Maha Mulia di antara yang mulia. Semoga sholawat dan salam kemuliaan senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga beliau. Demikianlah urutan kronologi dalam beribadah yang telah diilhamkan Allah kepadaku. Maka sekarang ketahuilah -dengan memohon pertolongan dari Allah SWT- bahwa secara garis besar ada 7 tahapan, yaitu : 1. Tahap ilmu 2. Tahap taubat 3. Tahap penghalang 4. Tahap godaan 5. Tahap motivator 6. Tahap pencemaran 7. Tahap puji dan syukur Dengan membahas 7 tahapan di atas secara sempurna, maka selesailah kitab Minhajul ‘Abidin Ilal Jannah. Kini kami mengikuti tahapan-tahapan itu dalam memberikan penjelasan lafadz untuk memberikan penjelasan yang dimaksud. Masing-masing tahapan akan kami kupas dalam bab tersendiri, insya Allah. Allah SWT, Dia-lah yang menganugerahkan taufiq dan memberikan anugerah-Nya. Tiada daya dan kekuatan melainkan atas pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Search
Search:
Product Scroller
Information
Others
--Kontak Kami--

Telp/SMS Esia :
- 02199289242
Telp/SMS Telkomsel :
- 085216777857
Telp/SMS Mentari :
- 085883483034
- 085888884939
WhatsApp :
- 085216777857
Line :
- 085216777857
Kako Talk :
- 085216777857
We Chat :
- 085216777857
Pin BB :
- D153B1C2
Pembayaran
BSM

No. Rekening 7006157445 atas nama Rizki Fauzan H


Muamalat

No. Rekening 3060015024 atas nama Rizki Fauzan H


BNI Syariah

No. Rekening 297356865 atas nama Rizki Fauzan H


Others
Others
News
1 Mei 2018
Tips Menyambut Bulan Ramadhan
🕌 *Tips Menyambut Bulan Ramadhan* 🕌   Sahabat Bukuilmu.com, Tidak terasa sebentar lagi tamu agung akan datang menghampiri. Sudahkah Anda bersiap-siap untuk menyembutnya? Berikut ini beberapa tips untuk menyembut Bulan yang diberkahi ini: detail

21 April 2018
Tiga Amal di Bulan Sya’ban
Sahabat Bukuilmu.com, Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah Azza wa Jalla. وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ “Inilah bulan yang di dalamnya amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad; Hasan) Setelah kita tahu keutamaan bulan Sya’ban, berikut ini tiga amal khusus di bulan Sya’ban yang dituntunkan melalui hadits-hadits shahih. detail

21 April 2018
Optimalkan Ibadah Di Bulan Sya’ban
Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Ada juga ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ini. detail

22 Maret 2018
Ingin Pintu Rezeki Terbuka dari Langit, Lakukan 13 Amalan Ini
SERING kali kita beranggapan bahwa rezeki kita sebanding dengan apa yang kita usahakan. Sesungguhnya tidak mesti begitu. Ada banyak orang yang bisa menghidupi keluarganya di luar rumus matematika duniawi. Misalnya saja, seorang buruh tetap bisa menyekolahkan lima orang anaknya sampai perguruan tinggi. detail

22 Maret 2018
Muslim Sejati Gemar Muhasabah Diri
"Seyogyanya bagi seorang Muslim itu menyisihkan waktunya pada pagi hari dan sore hari untuk muhasabah diri” detail

22 Maret 2018
Memaknai Arti Muhasabah Diri yang Hakiki
Muhasabah adalah sesuatu hal yang perlu dan menjadikannya sebuah kebutuhan dalam tiap-tiap diri manusia, di dalam agama Islam, muhasabah sangatlah dianjurkan karena jika muhasabah bisa dijalankan dengan baik akan memberi banyak manfaat baik yang akan di dapatkan di dunia maupun diakhirat kelak. detail

1 Februari 2018
Gerhana Bulan Tanda Kebesaran Allah untuk Menakuti Hamba-Nya
Berdasarkan informasi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Rabu (31/januari/2018) akan terjadi gerhana matahari total. Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, memastikan –seperti dilansir okezone.com, seluruh masyarakat di wilayah Indonesia bisa menyaksikan gerhana bulan total yang akan berakhir pukul 22.11 WIB. detail

» index berita
Others
Bukuilmu.com
Others
02199289242 - 085216777857 - 085883483034
© 2011 www.Bukuilmu.com - email: [rizan_1982@yahoo.com]
Jl. STM Walang Jaya No. 9 Rt. 11 Rw. 03 Tugu Selatan Koja Jakarta utara
Smile

Toko Online